Instankaltim.com – Kutim – Fenomena kemarau panjang dan El Nino yang melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memberikan dampak terhadap berbagai sektor usaha warga, terutama pada sektor pertanian serta industri pengolahan pangan lokal.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Kabupaten Kutim, Noviari Noor, menyampaikan kondisi kekeringan saat ini memicu terjadinya perlambatan di sektor pertanian akibat turunnya tingkat produksi tanaman pangan warga.
“Kondisi sekarang ini, terutama akibat fenomena El Nino, membuat semua sektor mengalami sedikit perlambatan. Sektor pertanian di lapangan terdampak tingkat kekeringan sehingga mengurangi tingkat produksi, tidak optimal seperti kondisi normal,” ujar Noviari, saat ditemui di Kantor Bupati Kutim, Selasa (29/09/2026).
Noviari juga mengungkapkan dampak kekeringan juga mulai mengancam keberlangsungan industri usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya para pengrajin tahu dan tempe. Penurunan ketersediaan dan kualitas air bersih menjadi kendala utama proses produksi mereka.
Ia menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar pengrajin tahu dan tempe mengandalkan sumber air mandiri yang diolah dan dijernihkan secara swadaya. Namun, menyusul debit air tanah dan sungai yang kian surut, krisis air bersih tak terhindarkan.
“Yang saat ini cukup terdampak adalah produksi tahu dan tempe akibat kadar air yang menurun. Mereka membutuhkan air bersih yang cukup untuk proses pengolahannya, dan kondisi air yang surut membuat mereka kesulitan mendapatkan air bersih,” terangnya.
Ditengah kemarau yang dapat mengancam keberlangsungan UMKM, pihaknya akan segera bertindak cepat dengan melakukan pemetaan dan koordinasi Disperindag dan Diskop UMKM guna memastikan ketersediaan pasokan air bersih bagi para pelaku UMKM terdampak.
“Dalam waktu dekat, saya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Koperasi untuk merumuskan langkah penanganan, ketersediaan air bersih bagi para pengrajin tahu dan tempe ini bisa kembali teratasi,” pungkasnya.(Adv).
Penulis: Dirhan
