Instankaltim.com – Kutim – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus melakukan pemutakhiran data Anak Tidak Sekolah (ATS). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan data yang digunakan pemerintah sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Kepala Bidang (Kabid) PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, mengatakan proses verifikasi masih berlangsung dengan melibatkan operator sekolah dan desa.
Menurutnya, selain mencocokkan data yang sudah tersedia, pihaknya juga pengembangan aplikasi pembanding untuk memperoleh gambaran lebih akurat mengenai jumlah ATS di Kutim.
“Data ini tidak menunjukkan kondisi nyata yang sebenarnya di Kutim itu ATS-nya ada berapa. Makanya sekarang kita kembangkan ada aplikasi pembanding,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (05/10/2026).
Heri mengungkapkan masih terdapat data yang sebenarnya sudah tidak masuk dalam kategori ATS. Kondisi tersebut terjadi karena adanya perubahan status pendidikan maupun kependudukan yang belum seluruhnya terbarui dalam sistem.
“Anak yang sudah tamat SMA seharusnya sudah enggak masuk. Nanti kita hilangkan, tapi tidak menutup kemungkinan jika di satu wilayah itu ada anak yang tidak terdata tetapi ada di lapangan, nanti kita tambahkan,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, beberapa data yang perlu diperbarui di antaranya anak yang telah meninggal dunia, pindah domisili, bukan lagi penduduk Kutim, maupun sudah menyelesaikan pendidikan.
“Masih terdapat anak yang melanjutkan pendidikan di pondok pesantren atau lembaga pendidikan lain yang statusnya perlu disesuaikan supaya kita dapatkan gambaran realnya. Anak yang tidak sekolah di Kutim itu sekian,” jelasnya.
Heri menyebut, proses verifikasi juga dilakukan dengan turun melihat kondisi anak berdasarkan data yang tersedia, sehingga penanganan ATS tidak hanya berdasarkan angka administratif, tetapi benar-benar menyasar anak yang masih berada di Kutai Timur dan membutuhkan akses pendidikan.
“Yang sudah tamat SMA, yang meninggal, kemudian pindah ke sini, itu kita harus hilangkan dari data, supaya datanya sesuai dengan dilapangan,”
Berdasarkan hasil sementara, Disdikbud Kutim telah melakukan verifikasi terhadap 6.444 data ATS, sementara sekitar 3.000 data lainnya masih dalam proses pemeriksaan. Verifikasi tersebut ditargetkan dapat selesai sekitar pertengahan Oktober.
Heri mengatakan, setelah proses pemutakhiran selesai, jumlah ATS yang benar-benar menjadi sasaran penanganan diperkirakan jauh lebih rendah dibandingkan data awal yang mencapai 9.391 orang.
“Kalau kemarin, hitung-hitungan saya itu sekitar 3.000 sekian dan 3.000 itu nanti yang menjadi PR-nya teman-teman SKB dan PKBM untuk menampung mereka,” tuturnya.
Data yang telah diverifikasi nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan. Anak yang masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan akan diarahkan ke satuan pendidikan nonformal yang tersedia.
“Kalau yang sudah benar-benar enggak mau sekolah ya sudah. Tapi kalau mau sekolah, ya kita arahkan,” pungkasnya.(Adv).
Penulis: Dirhan
