IMG-20251122-WA0018

138 Kasus Risiko Stunting di Sangatta Utara, Pemdes Dorong Skrining dan Intervensi Diperkuat

Foto : Rembuk Stunting Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat pencegahan dan penanggulangan stunting di tingkat desa yang digelar di Aula BPU Desa Sangatta Utara, Kamis (13/8/2026).

Instankaltim.com – Kutim – Pemerintah Desa Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), menggelar Rembuk Stunting Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat pencegahan dan penanggulangan stunting di tingkat desa yang digelar di Aula BPU Desa Sangatta Utara, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan dihadiri Camat Sangatta Utara Hj Hasdiah, Kepala Desa Sangatta Utara Mulyanti, jajaran pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, PKK, para ketua RT, calon pengantin hingga Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD).

Usai kegiatan, Camat Sangatta Utara Hasdiah mengatakan kegiatan Rembuk Stunting diselenggarakan dengan tujuan utama mencari solusi atas permasalahan stunting yang terjadi di desa.

“Melalui forum ini, pemerintah desa menyerap berbagai usulan masalah sekaligus penanganan yang tepat dari para kader serta seluruh lapisan masyarakat,” ujar Hasdiah.

Hasdiah mengungkapkan di Kecamatan Sangatta Utara sendiri, tercatat ada sebanyak 138 kasus stunting. Hingga saat ini, faktor pasti penyebab tingginya angka tersebut belum dapat dipastikan karena belum terlaksananya proses skrining secara menyeluruh.

“Dari hasil kegiatan ini, para Ketua RT diimbau dan diminta aktif mengajak para warganya yang terindikasi untuk datang ke puskesmas guna menjalani skrining kesehatan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan langkah skrining ini dinilai sangat krusial agar intervensi yang diberikan tepat sasaran. Tanpa skrining, penanganan risiko stunting selama ini hanya menebak-nebak seperti pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan medis balita tersebut.

Menurutnya, melalui hasil skrining, kondisi dan penyebab pasti stunting pada anak dapat teridentifikasi secara akurat. Jika anak terindikasi memiliki penyakit penyerta seperti TBC atau asma, maka pengobatan medis akan diprioritaskan terlebih dahulu.

“Kalau permasalahan murni disebabkan oleh kurang gizi atau gangguan nutrisi, anak akan diarahkan ke Rumah Rehab Gizi Stunting (RRG) untuk mendapatkan penanganan gizi yang tepat serta edukasi bagi para orang tua,” jelasnya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Sangatta Utara Mulyanti, mengungkapkan berdasarkan data terkini dari pihak Puskesmas terdapat 138 kasus risiko stunting di wilayahnya.

Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah desa untuk segera memperkuat upaya pencegahan dan pendampingan.

“Fokus utama dari kegiatan ini adalah menekan angka risiko stunting di Kutai Timur, khususnya di Desa Sangatta Utara,” kata Mulyanti.

Ia menegaskan pemerintah desa berkomitmen mendukung berbagai program penurunan risiko stunting melalui kerja sama lintas sektor. Meski demikian, penentuan status stunting tetap menjadi kewenangan tenaga kesehatan.

“Kami berharap hasil kegiatan Rembuk Stunting ini dapat ditindaklanjuti melalui pendataan dan pemantauan secara berkala terhadap keluarga serta anak yang masuk kategori berisiko,” tegasnya.

Ditempat yang sama, Kepala UPT Puskesmas Sangatta Utara dr Rina, mengatakan peningkatan angka temuan risiko stunting tidak selalu berarti kondisi memburuk, melainkan menunjukkan adanya upaya pencarian dan pemantauan yang lebih aktif di lapangan.

“Sebenarnya untuk kasus stunting ini, semakin kita cari justru semakin meningkat. Kenapa? Karena banyak warga yang awalnya tidak mau datang, atau hanya datang saat pembagian Vitamin A dan imunisasi saja,” ujar dr Rina.

dr Rina menuturkan, temuan tersebut justru menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membawa anak ke Posyandu dan melakukan pemantauan tumbuh kembang secara rutin.

“Jadi, kalau di awal angkanya terlihat meningkat karena pencarian aktif, menurut saya tidak masalah. Yang penting kita lakukan intervensi. Setelah diintervensi, angkanya perlahan akan turun,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *