IMG-20251122-WA0018

Partisipasi PAUD Usia 5-6 Tahun di Kutim Capai 92,5 Persen, Disdikbud Kutim Targetkan Naik Jadi 93,5 Persen

Foto : Kepala Bidang (Kabid) PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto.

Instankaltim.com – Kutim – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat angka partisipasi sekolah anak usia 5–6 tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun ini, angka partisipasi telah mencapai 92,5 persen, meningkat cukup signifikan dibandingkan sekitar 65 persen pada 2024.

Kepala Bidang (Kabid) PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk memasukkan anak ke satuan pendidikan pada usia PAUD. Hal itu juga sejalan dengan pemahaman masyarakat terhadap program wajib belajar 13 tahun.

“Sekarang partisipasi anak usia 5 sampai 6 tahun itu sudah 92,5 persen. Kalau kita lihat dibandingkan tahun 2024, waktu itu masih sekitar 65 persen. Jadi ini peningkatannya cukup bagus. Artinya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya, khususnya usia 5 sampai 6 tahun, sudah semakin meningkat,” ujar Heri saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/10/2026).

Menurut Heri, capaian tersebut masih perlu ditingkatkan agar semakin banyak anak usia 5–6 tahun memperoleh layanan pendidikan. Disdikbud Kutim menargetkan angka partisipasi tersebut dapat mencapai 93,5 persen pada tahun berikutnya.

“Target kita tahun depan bisa 93,5 persen. Jadi masih ada anak-anak yang belum masuk dalam layanan pendidikan PAUD. Ini yang harus kita dorong bersama, bagaimana supaya anak usia 5 sampai 6 tahun itu semuanya bisa mendapatkan layanan pendidikan,” katanya.

Ia menjelaskan, peningkatan partisipasi tersebut juga membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam membantu kebutuhan dasar anak ketika mulai masuk sekolah. Dukungan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga sekaligus mendorong lebih banyak anak mengikuti pendidikan.

“Pemerintah juga harus menyiapkan kebutuhan anak-anak itu, seperti seragam dan perlengkapan sekolah. Karena jangan sampai ada anak yang sebenarnya mau sekolah, tetapi terkendala karena kebutuhan perlengkapannya belum tersedia. Kalau kebutuhan dasarnya kita siapkan, tentu akan lebih mudah mendorong mereka masuk sekolah,” jelasnya.

Heri menambahkan, pendidikan anak usia dini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan dasar. Karena itu, peningkatan angka partisipasi perlu dibarengi dengan kualitas layanan pendidikan yang baik.

“Bukan hanya mengejar angka partisipasinya saja, tetapi bagaimana anak-anak yang sudah masuk itu mendapatkan layanan pendidikan yang baik. Jadi kita ingin jumlah anak yang sekolah meningkat, tetapi kualitas pembelajarannya juga harus diperhatikan,” pungkasnya.(Adv).

Penulis: Dirhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *