IMG-20251122-WA0018

DPRD Samarinda Dorong Budaya Membaca Tetap Menjadi Fondasi Pendidikan

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar

Samarinda – Kemajuan teknologi informasi telah membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat belajar dan memperoleh pengetahuan. Di tengah semakin mudahnya akses informasi melalui internet dan kecerdasan buatan, budaya membaca dinilai tetap harus dipertahankan sebagai salah satu fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai perkembangan teknologi memang memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Namun, menurutnya, kemudahan memperoleh informasi tidak boleh membuat masyarakat meninggalkan proses belajar yang membutuhkan ketekunan, seperti membaca buku, menulis, dan melakukan kajian secara mendalam.

Ia berpandangan bahwa kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya informasi yang diperoleh, tetapi juga oleh kemampuan memahami, mengolah, dan mengembangkan informasi tersebut menjadi pengetahuan. Oleh sebab itu, budaya literasi harus tetap diperkuat meskipun masyarakat hidup di era digital.

“Sekarang anak-anak lebih mudah mendapatkan jawaban karena ada Google dan berbagai aplikasi. Tetapi belum tentu mereka memahami proses untuk menemukan jawaban itu,” ujarnya, (10/6/2026).

Anhar mengatakan membaca buku masih memiliki keunggulan dibandingkan membaca informasi singkat melalui media digital. Proses membaca yang lebih panjang dinilai mampu melatih konsentrasi, membangun daya nalar, serta memperkuat kemampuan seseorang dalam memahami persoalan secara menyeluruh.

“Membaca buku itu memberi ruang untuk merenung dan memahami. Kalau di layar, perhatian kita sering terpecah karena banyak hal lain yang muncul bersamaan,” katanya.

Ia menilai sejarah telah menunjukkan bahwa lahirnya berbagai penemuan dan pemikiran besar dunia tidak terlepas dari tradisi literasi yang kuat. Kebiasaan membaca dan menulis menjadi bagian penting dalam membentuk pola pikir para ilmuwan maupun tokoh dunia.

“Ilmuwan-ilmuwan besar dulu tidak hidup dengan teknologi seperti sekarang, tetapi mereka mampu menghasilkan pemikiran yang sampai hari ini masih dipelajari,” ungkapnya.

Anhar juga menyoroti kecenderungan masyarakat modern yang lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan kedalaman dalam memperoleh informasi. Menurutnya, kebiasaan tersebut perlu diimbangi dengan aktivitas membaca yang lebih komprehensif agar kemampuan berpikir kritis tetap berkembang.

“Kita sekarang cenderung mencari yang cepat. Padahal kemampuan berpikir yang kuat justru lahir dari proses belajar yang tidak instan,” ujarnya.

Ia menilai dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi literasi melalui kegiatan membaca, menulis, dan diskusi sehingga peserta didik mampu membangun kemampuan analisis secara mandiri.

“Para tokoh dunia sampai hari ini tetap menulis. Itu menunjukkan bahwa menulis masih menjadi bagian penting dalam membangun cara berpikir seseorang,” katanya.

Menurutnya, penggunaan teknologi hendaknya diarahkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, bukan menjadi pengganti seluruh proses berpikir manusia.

“Kalau semua hal diselesaikan oleh perangkat digital, ada risiko kemampuan analisis dan daya pikir manusia menjadi semakin lemah,” tegasnya.

Ia berharap kemajuan teknologi dan budaya literasi dapat berjalan beriringan sehingga dunia pendidikan mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan karakter yang kuat.

“Digitalisasi boleh berkembang, tetapi budaya membaca, menulis dan berpikir mendalam harus tetap menjadi kekuatan utama dunia pendidikan,” tutupnya. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *