IMG-20251122-WA0018

Pastikan Kualitas Air Sungai Sangatta Tetap Aman, Perumdam Kutim Intensif Monitor Kadar Klorida di IPA Kabo

Foto : Perumda TTB Kutim melakukan pengambilan sampel air di Sungai Sangatta untuk pengujian Kadar Klorida.

Instankaltim.com – Kutim – Perumda Air Minum Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Perumdam Kutim) terus memantau kondisi air baku Sungai Sangatta, terutama di sekitar Intake IPA Kabo. Langkah ini dilakukan setiap hari, terutama saat kondisi pasang, guna memastikan air yang didistribusikan tetap aman bagi masyarakat.

Asisten Manajer Laboratorium Perumdam Kutim, Endah Budi Lestari, mengatakan pemantauan intensif dimulai sejak 24 Agustus 2026. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat perubahan kadar klorida, salinitas, TDS, EC dan pH.

Klorida adalah ion yang terbentuk ketika unsur klorin mendapatkan elektron. Berasal dari garam mineral alami, air laut, atau pencemaran limbah. Kadar klorida yang tinggi membuat air terasa asin dan dapat menyebabkan korosi pada logam.

“Waktu pemeriksaan dilakukan pada saat kondisi pasang dan setiap hari,” kata Endah.

Dari hasil monitoring, kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang sempat meningkat dari 315,6 ppm pada 24 Agustus menjadi 330,8 ppm. Pada 25 Agustus, atau naik 15,2 ppm atau sekitar 4,82 persen.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan air laut sudah memengaruhi kualitas air di intake. Pada 7 September, misalnya, kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang mencapai 400 mg/L, sementara di titik Prodesa Kabo hanya 4,8 mg/L. Laporan menyebut pengaruh air asin dari muara belum menunjukkan indikasi signifikan di lokasi intake.

Endah juga menjelaskan, air yang berwarna hijau tidak otomatis disebabkan air laut atau kadar garam. Hasil pemeriksaan terbaru 23 September kadar Klorida Jebatan Kampung Kajaang di angka 148,2 mg/L, lalu di Prodesa Kabo 8,3 mg/L dan Intake Kabo berada di 4,9 mg/L.

“Warna hijau lebih sering berkaitan dengan organisme, alga atau bahan organik, bukan karena ion garam,” jelasnya.

Endah mengimbau masyarakat, khususnya di sekitar wilayah muara, agar tidak menggunakan air sungai secara langsung untuk minum dan memasak. Untuk mandi, mencuci dan kebutuhan rumah tangga lainnya, masyarakat diminta memperhatikan kondisi air terlebih dahulu, terutama jika terjadi perubahan warna, bau, rasa maupun kondisi yang tidak normal.

“Pemantauan air baku ini akan terus dilakukan. Ini bagian dari upaya Perumdam Kutim menjaga kualitas air dan memastikan kondisi sumber air tetap terpantau.

Diketahui, Pemeriksaan Salinitas guna mengetahui tingkat keasinan atau konsentrasi total garam yang terlarut dalam air. Hal ini berfungsi untuk mengetahui apakah air terlalu asin bagi makhluk hidup.

Sedangkan TDS (Total Dissolved Solids) adalah jumlah total padatan terlarut (baik mineral, garam, logam, maupun zat organik) di dalam air. Lalu ada pemeriksaan EC (Electrical Conductivity) guna mengetahui tingkat konduktivitas atau daya hantar listrik suatu larutan.

Nilai EC menunjukkan seberapa banyak ion atau garam terlarut yang ada di dalam air. pH (Power of Hydrogen) adalah tingkat keasaman yang dimiliki oleh suatu larutan. Skala pH berkisar dari 0 hingga 14.

Di tengah pemantauan tersebut, Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan, juga rutin turun langsung mengecek kondisi air baku. Pemantauan dilakukan pada pagi hari dan kembali dilakukan sore hari sebelum pulang kerja.

Pada Jumat, 18 September 2026, Suparjan kembali memantau kondisi air di titik air baku IPA Kabo serta mengecek kondisi aliran air di rumah pelanggan di kawasan Jalan Ahmad Yani, poros Sangatta-Bontang.

Langkah tersebut dilakukan untuk melihat kondisi air tidak hanya dari sisi sumber, tetapi juga sampai ke aliran yang diterima pelanggan.(Adv).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *