Samarinda – Persoalan yang dihadapi SMP Negeri 24 Samarinda dinilai memerlukan solusi yang lebih komprehensif daripada sekadar memperbaiki fasilitas sekolah. Kondisi kawasan yang kerap tergenang air ketika hujan menjadi tantangan utama sehingga penanganannya harus mencakup aspek infrastruktur dan tata lingkungan secara bersamaan.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menjelaskan bahwa lokasi sekolah yang berada di Jalan Pangeran Suryanata memiliki kontur lahan lebih rendah dibandingkan lingkungan di sekitarnya. Kondisi tersebut menyebabkan genangan air terus berulang setiap musim hujan dan memengaruhi aktivitas pendidikan.
Menurutnya, apabila pemerintah ingin menghadirkan solusi yang benar-benar permanen, maka penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya memperbaiki bangunan yang sudah ada.
“Kalau berbicara kelayakan, sebenarnya opsi yang paling ideal adalah relokasi. Namun persoalannya sampai saat ini belum ada lokasi pengganti yang tersedia,” kata Novan (25/6/2026).
Ia mengatakan besarnya kebutuhan anggaran menjadi faktor utama yang membuat pelaksanaan proyek belum memungkinkan dilakukan dalam waktu dekat. Di sisi lain, pemerintah daerah masih harus memprioritaskan penyelesaian kewajiban keuangan yang nilainya cukup besar sehingga berbagai proyek strategis perlu disesuaikan dengan kemampuan fiskal.
Novan menilai kondisi tersebut mengharuskan pemerintah menentukan skala prioritas pembangunan secara lebih selektif sampai kapasitas keuangan daerah kembali membaik.
“Kalau kondisi keuangan daerah sudah lebih longgar, tentu pembangunan yang dianggap prioritas bisa mulai dijalankan kembali,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa usulan penanganan SMPN 24 masih akan dibahas dalam proses penyusunan prioritas pembangunan tahun anggaran 2027 bersama Dinas Pendidikan. Dengan demikian, belum ada keputusan apakah proyek tersebut akan memperoleh alokasi anggaran pada tahun mendatang.
Menurut Novan, penyelesaian persoalan banjir tetap harus menjadi bagian utama dalam setiap rencana pembangunan agar fasilitas pendidikan yang dibangun nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang.
“Ini bukan hanya soal membangun gedung sekolah. Kawasan lahannya juga harus ditata dan dimaksimalkan agar persoalan banjir bisa diselesaikan,” pungkasnya. (adv)
