Samarinda – Pesatnya perkembangan media sosial membuat arus informasi bergerak semakin cepat dan mudah diakses masyarakat. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan berupa meningkatnya penyebaran informasi yang belum tentu benar sehingga berpotensi memicu kesalahpahaman maupun keresahan di tengah masyarakat.
Ketua Komisi I DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, menilai literasi digital menjadi salah satu hal penting yang perlu terus diperkuat. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran setiap informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kepada orang lain.
Ia berpandangan bahwa menjaga ruang digital yang sehat merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, setiap pengguna media sosial diharapkan lebih berhati-hati agar informasi yang beredar tidak menimbulkan konflik ataupun opini yang dibangun di atas informasi yang belum terverifikasi.
“Kita harus sama-sama menjaga kondusivitas, khususnya di Kota Samarinda. Jujur saja, yang sering membuat gaduh selama ini adalah informasi yang beredar di media sosial tanpa konfirmasi yang jelas,” ujar Samri, (15/6/2026).
Menurut Samri, salah satu persoalan yang sering terjadi adalah kebiasaan sebagian masyarakat menerima sebuah informasi tanpa terlebih dahulu memeriksa sumber maupun kebenarannya. Kondisi tersebut membuat informasi yang belum tentu valid dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suatu persoalan.
Ia menilai proses verifikasi menjadi langkah penting sebelum sebuah informasi disampaikan kepada publik. Dengan melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang berkaitan, informasi yang diterima masyarakat akan lebih akurat dan berimbang.
“Kadang-kadang ada yang memberitakan sesuatu yang belum tentu benar, belum terkonfirmasi, tetapi sudah menyebar ke mana-mana. Akhirnya masyarakat membentuk opini sendiri dan situasinya menjadi gaduh,” katanya.
Samri juga menekankan pentingnya menjaga etika dalam penggunaan media sosial. Menurutnya, penyampaian informasi yang hanya menampilkan satu sudut pandang berpotensi menimbulkan penilaian yang tidak adil terhadap pihak tertentu.
Ia mengaku pernah mengalami langsung dampak negatif dari informasi yang berkembang tanpa didukung proses klarifikasi sehingga memahami pentingnya budaya verifikasi sebelum mengambil kesimpulan.
“Saya hanya mengimbau agar masyarakat lebih bijak. Jangan mudah percaya sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Verifikasi itu penting supaya tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menyebarkan informasi yang benar sehingga media sosial dapat menjadi ruang komunikasi yang edukatif, aman, dan mendukung terciptanya suasana yang kondusif.
“Kalau seperti itu, akhirnya ruang digital dapat dimanfaatkan secara lebih sehat dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (adv)
