SAMARINDA – Pengoperasian kolam retensi di kawasan Sempaja masih menghadapi kendala saluran pembuangan menuju drainase utama. Pemerintah Kota Samarinda diminta segera membenahi jalur aliran air tersebut agar fungsi kolam retensi dalam mendukung pengendalian banjir bisa berjalan optimal.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, mengatakan air dari kolam retensi direncanakan mengalir melalui drainase Jalan PM Noor sebelum menuju sungai. Namun, kondisi saluran harus dipastikan memadai dan tidak terhambat sedimentasi maupun tumpukan sampah.
“Drainase kita juga mengalami pendangkalan akibat sedimentasi parah, serta tumpukan sampah yang menjadi hambatan,” kata Rohim (13/10/2026).
Ia menjelaskan, hasil peninjauan Komisi III juga menemukan persoalan drainase di sejumlah titik. Selain pendangkalan, terdapat saluran dengan elevasi yang tidak sesuai dengan arah aliran menuju sungai. Kondisi tersebut membuat air sulit mengalir dan berpotensi meluap ke badan jalan ketika hujan deras.
Rohim meminta Pemkot Samarinda mempercepat pengerukan dan perbaikan drainase melalui optimalisasi anggaran pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Menurutnya, pekerjaan perlu diselesaikan sebelum curah hujan meningkat.
“Mumpung kondisi saat ini belum masuk musim hujan dan masih kemarau, ini momentum bagi Pemkot untuk menuntaskan permasalahan yang menimbulkan banjir saat hujan deras turun,” ujarnya.
Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan Rohim, Kalimantan Timur diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara puncak hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Selain pembenahan drainase, Rohim menilai pengendalian banjir juga harus menyentuh persoalan tata ruang. Pembukaan lahan di wilayah hulu dan alih fungsi daerah resapan air perlu dikendalikan agar tidak memperbesar risiko banjir di kawasan perkotaan.
“Pemerintah harus berani mulai melakukan moratorium terhadap pembukaan atau pemotongan lahan tadi dan alih fungsi daerah resapan air. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko banjir,” demikian Abdul Rohim. (Adv)
