PJJ Saat Kabut Asap Berisiko Bikin Siswa Tertinggal, DPRD Samarinda Ingatkan Kesiapan Sekolah

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti

SAMARINDA – Tidak meratanya fasilitas pembelajaran daring menjadi persoalan dalam penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat kabut asap melanda Samarinda. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai kebijakan tersebut belum efektif apabila masih ada siswa dan guru yang kesulitan mengakses perangkat maupun jaringan internet.

Sri Puji mengatakan, kebijakan belajar dari rumah diperlukan untuk mengurangi risiko paparan udara tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, perlindungan kesehatan siswa perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan belajar mereka.

“Kalau kita bilang efektif atau tidak, tentu tidak efektif,” katanya (21/10/2026).

Ia menjelaskan, kondisi sekolah dalam menjalankan PJJ berbeda-beda. Ada sekolah yang sudah menggunakan teknologi untuk menyampaikan pelajaran, tetapi ada pula yang belum didukung fasilitas memadai. Situasi itu membuat pelaksanaan pembelajaran bergantung pada ketersediaan perangkat di pihak guru maupun siswa.

“Tidak semua anak memiliki akses HP atau tidak semua anak memiliki internet, atau mungkin gurunya tidak punya laptop, ya itu kan jadi masalah,” ujarnya.

Menurut Sri Puji, persoalan tersebut perlu diperhatikan agar siswa tidak sekadar menerima tugas tanpa memperoleh penjelasan materi yang cukup. Jika kendala perangkat dan internet tidak diatasi, pemahaman siswa terhadap pelajaran berpotensi berbeda-beda.

Di sisi lain, ia melihat sejumlah sekolah telah berupaya mempertahankan kegiatan belajar selama PJJ. Sri Puji menyebut SD 004 dan SD 010 sebagai contoh sekolah yang, berdasarkan pengamatannya, telah memanfaatkan laptop untuk menyampaikan materi dan tugas.

“Nah itu kebetulan di daerah SD 04, SD 010 kalau enggak salah, itu dia PJJ-nya bagus. Jadi dia memberikan tugas, memberikan pembelajaran melalui laptop tadi dan beberapa anak bisa mengakses yang memiliki internet atau memiliki HP atau laptop,” tuturnya.

Sri Puji menambahkan, materi yang belum tersampaikan secara maksimal selama pembelajaran daring masih dapat dilengkapi setelah siswa kembali ke sekolah. Meski demikian, ia mengingatkan agar sekolah tetap memperhatikan siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas supaya kesenjangan belajar tidak semakin besar.

Ia berharap kondisi yang mengharuskan PJJ tidak berlangsung berkepanjangan. Menurutnya, pembelajaran dari rumah sebaiknya menjadi pilihan sementara selama kualitas udara belum aman bagi kesehatan siswa.

“Harapannya PJJ-nya kan sebentar saja, enggak sebagai waktu pokok,” demikian Sri Puji. (Adv)

Exit mobile version