SAMARINDA – Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, meminta PLN memberikan potongan tagihan listrik sebesar 50 persen kepada pelanggan di Samarinda yang terdampak pemadaman berkepanjangan. Ia juga mendesak aparat penegak hukum (APH) melakukan audit dan pemeriksaan untuk menelusuri penyebab gangguan listrik yang berlangsung berbulan-bulan.
Menurut Rohim, pelanggan tidak seharusnya terus menanggung dampak pemadaman tanpa kejelasan penyelesaian. Permintaan maaf dari PLN dinilai belum cukup jika tidak diikuti perbaikan layanan dan tanggung jawab kepada masyarakat.
“Mestinya karena terjadi pemadaman secara berkala di Samarinda, seluruh pelanggan di Samarinda dipotong 50 persen dari tagihan. Itu namanya tanggung jawab,” ujarnya saat diwawancarai.
Rohim mempertanyakan alasan kerusakan pembangkit yang disebut menjadi penyebab pemadaman. Ia menilai gangguan yang berlangsung hampir setengah tahun semestinya sudah ditangani melalui perbaikan teknis yang memadai.
“Barang macam apa yang tidak bisa diperbaiki? Kalau memang rusak tinggal diperbaiki, kalau tidak bisa diperbaiki beli yang baru. Pemasukan ke PLN kan masuk tiap bulan,” katanya.
Ia menduga ada persoalan manajemen yang perlu ditelusuri. Namun, Rohim mengaku belum mengetahui apakah masalah tersebut berasal dari tingkat pusat dan berdampak pada pelayanan di daerah.
“Ini masalahnya mismanagement. Manajemennya, apakah terjadi di pusat lalu berdampak ke daerah, itu yang kita tidak tahu,” tuturnya.
Rohim juga menyinggung kondisi Kalimantan Timur sebagai daerah penghasil batu bara yang menjadi salah satu sumber energi primer. Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan pertanyaan ketika pemadaman masih terjadi berulang kali.
Ia mengatakan DPRD kota maupun provinsi telah beberapa kali memanggil PLN untuk membahas persoalan tersebut. Namun, karena menilai belum ada hasil berarti, ia kini mendorong pemeriksaan melalui APH.
“Kalau saya pribadi sudah putus asa. Makanya saran saya dua itu saja. Tidak usah dipanggil. APH masuk, lakukan audit dan pemeriksaan. Kedua, PLN kompensasi atas pelayanan yang tidak perform,” tegasnya.
Rohim turut menanggapi wacana pengambilalihan pengelolaan listrik di Batam oleh Danantara setelah wilayah tersebut mengalami pemadaman total. Ia tidak keberatan jika alternatif serupa dipertimbangkan selama dapat memperbaiki pelayanan di Samarinda dan Kalimantan Timur.
“Setuju saja asal lebih bagus. Coba dulu. Kalau ternyata lebih buruk, nanti kita pikirkan lagi,” demikian Rohim. (Adv)
